Di Indonesia, perbedaan itu bukan teori. Anda bisa merasakannya dari logat di warung kopi, menu di meja makan, sampai cara orang merayakan hari besar. Di tengah kenyataan yang majemuk seperti itu, bhinneka tunggal ika hadir sebagai kalimat pendek yang menenangkan: beragam, tetapi tetap satu. Bukan sekadar slogan di buku sekolah, melainkan cara berpikir yang membuat hidup bersama terasa mungkin.
TL;DR
Bhinneka Tunggal Ika berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu” dan menjadi semboyan resmi negara pada lambang Garuda Pancasila. Ungkapan ini berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Majapahit, yang memuat pesan hidup berdampingan dalam perbedaan. Secara konstitusional, semboyan ini disebut dalam Pasal 36A UUD 1945.
Pengertian Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang menegaskan persatuan di tengah keberagaman. Anda akan menemukannya pada pita yang dicengkeram Garuda Pancasila, karena posisinya memang melekat pada identitas negara. Dalam praktiknya, semboyan ini mengajak masyarakat untuk melihat perbedaan sebagai bagian wajar dari kehidupan bersama, bukan alasan untuk saling menjauh.
Pengertian ini penting karena banyak orang hanya mengingat terjemahannya, tetapi lupa arahnya. Pesannya bukan “semua harus sama”, melainkan “kita bisa satu tujuan meski tidak seragam”. Itu sebabnya, Bhinneka Tunggal Ika sering dipakai sebagai pegangan saat muncul ketegangan sosial, politik, atau perdebatan identitas.
Arti Bhinneka Tunggal Ika (kata per kata)
Banyak halaman yang ranking tinggi menjelaskan arti kata per kata. Agar lebih mudah dibaca di ponsel, berikut ringkasannya:
| Kata | Makna ringkas |
|---|---|
| Bhinneka | beraneka, beragam |
| Tunggal | satu |
| Ika | itu |
Kalau disatukan, maknanya merujuk pada ide “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Pada level sehari-hari, ini terasa sederhana. Misalnya, Anda bisa tetap satu tim di kantor meski latar keluarga, bahasa ibu, atau cara beribadah berbeda. Yang disatukan bukan identitas pribadi, melainkan komitmen untuk saling menghormati dan bekerja sama.
Asal-usul: dari Kakawin Sutasoma (Majapahit)
Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika tidak muncul dari ruang hampa. Ia dikenal berasal dari Kakawin Sutasoma, sebuah karya sastra Jawa Kuno yang ditulis Mpu Tantular pada masa Majapahit. Museum Nasional menjelaskan bahwa Sutasoma ditulis pada akhir abad ke-14 dan menggambarkan toleransi beragama yang telah terjalin di Majapahit, lalu semangat toleransi itu kemudian dijadikan semboyan bangsa Indonesia.
Di berbagai pembahasan populer, frasa yang sering dikutip adalah “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Orang sering bertanya, apa maksudnya? Intinya, perbedaan tidak harus berujung pada pertentangan nilai. Kalimat itu mengarah pada gagasan bahwa kebenaran dan kebajikan tidak perlu “diduakan” sampai membuat orang saling meniadakan. Anda boleh berbeda keyakinan dan tradisi, tetapi tetap bisa hidup berdampingan dengan hormat.
Konteks sejarah ini penting untuk menjaga pembacaan yang sehat. Bhinneka Tunggal Ika sejak awal bukan ajakan untuk menghapus perbedaan, melainkan ajakan untuk menata perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan. Kalau Anda pernah melihat tetangga saling bantu saat ada hajatan, meski latar belakangnya berbeda, itu contoh kecil “roh” yang sama.
Dasar hukum: Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan resmi negara
Ada pertanyaan yang sering muncul di Google: “Bhinneka Tunggal Ika diatur dalam pasal berapa?” Jawabannya jelas. Dalam Pasal 36A UUD 1945 tertulis bahwa lambang negara adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Bagian ini terlihat singkat, tetapi dampaknya besar. Ketika sebuah semboyan disebut di konstitusi, posisinya bukan hiasan. Ia menjadi bagian dari identitas kenegaraan yang mengikat arah hidup bersama. Karena itu, membahas Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya urusan pelajaran PPKn, tetapi juga urusan etika warga dalam ruang publik.
Statistik keberagaman: mengapa semboyan ini masuk akal di Indonesia
Keberagaman Indonesia bukan sekadar kesan, ada datanya. Badan Pusat Statistik pernah merangkum hasil Sensus Penduduk 2010 dan menuliskan bahwa suku Jawa merupakan suku terbesar dengan proporsi 40,05% penduduk Indonesia, disusul suku Sunda 15,50%, sementara suku-suku lain berada di bawah 5%.
Angka ini memberi dua pelajaran sekaligus. Pertama, Indonesia punya kelompok besar, tetapi juga punya banyak kelompok lain yang secara jumlah lebih kecil. Kedua, dalam ruang sosial seperti sekolah, pasar, kantor, dan media sosial, Anda hampir pasti berinteraksi dengan orang dari latar berbeda. Di sinilah Bhinneka Tunggal Ika terasa relevan: ia “mendesain” cara hidup bersama agar mayoritas dan minoritas sama-sama punya ruang aman dan setara.
Kalau Anda tinggal di kota besar, percampuran ini terasa setiap hari. Di Jakarta, misalnya, satu gedung bisa diisi orang dari puluhan daerah. Di Bali, Anda bisa melihat interaksi warga lokal, pendatang, dan pekerja pariwisata dari berbagai pulau. Di Surabaya, dinamika kampung, industri, dan kampus mempertemukan banyak identitas sekaligus. Realitas ini menuntut keterampilan sosial, bukan sekadar toleransi pasif.
Makna praktis Bhinneka Tunggal Ika: bukan kalimat pajangan
Makna Bhinneka Tunggal Ika baru hidup kalau turun ke tindakan. Secara praktis, setidaknya ada beberapa “pegangan” yang mudah diuji dalam situasi nyata.
Pertama, menghormati martabat orang lain tanpa syarat. Bukan karena Anda sepakat, tetapi karena Anda sama-sama warga. Kedua, menahan diri dari kebiasaan memberi label. Di ruang digital, label sering lebih cepat keluar daripada pemahaman konteks. Ketiga, memisahkan kritik terhadap gagasan dari serangan terhadap identitas. Orang bisa berbeda pendapat soal kebijakan, tetapi itu tidak otomatis membenarkan ejekan suku, agama, atau asal daerah.
Kalimat pendeknya begini: Bhinneka Tunggal Ika adalah latihan kewargaan. Anda tidak perlu menunggu momen besar. Ia justru teruji saat hal kecil memancing emosi, misalnya saat grup keluarga memanas, atau saat komentar media sosial mulai mengarah ke SARA.
Contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika (yang realistis)
Agar tidak jadi daftar panjang yang melelahkan, contoh berikut dikelompokkan supaya mudah dipakai.
Di sekolah dan kampus
Memilih teman kelompok berdasarkan tanggung jawab, bukan latar belakang.
Menghormati teman yang menjalankan ibadah atau merayakan hari besar, tanpa menjadikannya bahan candaan.
Menyelesaikan konflik kelas lewat musyawarah, bukan lewat klik-klik kubu.
Berani menegur perundungan yang menyerang identitas.
Di lingkungan RT dan tempat kerja
Gotong royong saat ada kegiatan kampung, tanpa membedakan “orang lama” dan “pendatang”.
Menjaga bahasa yang sopan saat rapat, apalagi saat berbeda pandangan.
Memberi kesempatan bicara yang setara, termasuk kepada yang lebih pendiam.
Menghindari stereotip saat membahas rekan kerja dari daerah tertentu.
Di ruang digital
Menahan diri untuk tidak menyebarkan konten yang memanas-manasi identitas.
Mengecek sumber sebelum membagikan informasi sensitif.
Berdebat seperlunya, lalu berhenti ketika diskusi berubah jadi serangan pribadi.
Melaporkan konten ujaran kebencian jika platform menyediakan fitur yang jelas.
Kalau Anda ingin ukuran sederhana, tanyakan satu hal: “Apakah tindakan ini membantu hidup bersama, atau justru membuat orang lain merasa tidak aman?” Pertanyaan itu sering cukup untuk mengoreksi arah.
Cara menerapkan tanpa terdengar menggurui
Ada orang yang alergi dengan nasihat moral. Wajar. Karena itu, penerapan Bhinneka Tunggal Ika lebih efektif kalau dimulai dari kebiasaan kecil yang tidak memalukan orang lain.
Mulai dari bahasa. Saat Anda tidak paham budaya seseorang, bertanya dengan sopan jauh lebih aman daripada menebak-nebak. Lanjutkan dengan kebiasaan memberi ruang. Dalam rapat atau obrolan keluarga, ruang bicara yang adil sering menurunkan tensi. Dan satu lagi yang sering terlupakan: minta maaf dengan jelas ketika keliru. Kalimat “saya salah” kadang lebih kuat daripada seribu argumen.
Baca Juga : Cek Nomor Indosat: Cara Paling Cepat Saat Anda Lupa Nomor
FAQ
1) Apa arti Bhinneka Tunggal Ika?
Bhinneka Tunggal Ika berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Secara kata per kata, frasa ini merangkum gagasan bahwa keragaman adalah kenyataan, tetapi persatuan tetap tujuan bersama. Dalam konteks Indonesia, maknanya bukan menyamakan identitas, melainkan membangun hidup berdampingan yang saling menghormati.
2) Bhinneka Tunggal Ika berasal dari mana?
Ungkapan ini dikenal berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Majapahit. Museum Nasional menjelaskan bahwa Sutasoma ditulis dalam bahasa Jawa Kuno pada akhir abad ke-14 dan menggambarkan toleransi beragama di Majapahit, lalu semangat toleransi itu dijadikan semboyan bangsa.
3) Bhinneka Tunggal Ika diatur dalam pasal berapa?
Bhinneka Tunggal Ika disebut secara eksplisit dalam Pasal 36A UUD 1945. Pasal ini menyatakan bahwa lambang negara adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Karena tertulis di konstitusi, posisinya resmi dan melekat pada identitas negara.
4) Apa makna “tan hana dharma mangrwa” dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika?
Frasa ini sering dipahami sebagai pesan bahwa perbedaan tidak harus membuat kebenaran atau kebajikan “terbelah” menjadi alasan saling meniadakan. Intinya, orang bisa berbeda keyakinan dan tradisi, tetapi tetap dapat hidup berdampingan dengan hormat. Makna ini selaras dengan penjelasan Museum Nasional tentang semangat toleransi dalam Sutasoma.
5) Mengapa Bhinneka Tunggal Ika penting bagi masyarakat Indonesia?
Karena Indonesia memang majemuk, termasuk dari sisi etnis. BPS merangkum Sensus Penduduk 2010 dan menyebut suku Jawa 40,05% dan suku Sunda 15,50%, sedangkan banyak suku lain berada di bawah 5%. Dalam komposisi seperti ini, prinsip hidup bersama yang adil dan saling menghormati menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
6) Apa contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika di media sosial?
Contohnya: tidak menyebarkan konten yang memicu kebencian berbasis identitas, mengecek sumber sebelum membagikan informasi sensitif, dan membedakan kritik gagasan dari serangan terhadap suku atau agama. Di ruang digital, penerapan paling terasa adalah menahan diri, karena satu unggahan bisa memengaruhi banyak orang dalam waktu cepat.
7) Apakah Bhinneka Tunggal Ika berarti semua harus setuju?
Tidak. Bhinneka Tunggal Ika tidak menuntut keseragaman pendapat. Anda tetap bisa berbeda pandangan, bahkan berdebat keras soal kebijakan atau pilihan hidup. Yang dijaga adalah batasnya: jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan identitas atau tindakan yang membuat orang lain merasa tidak aman dalam ruang publik.
